Merasa Lebih Baik dari Orang Lain Itu Tidak Baik

TuntunanSholat.com – Alhamdulillah segala Puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat dan juga salam atas Baginda Rosulillah Shollollohu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan serta para sahabat nya yang hingga kini menjadikan kita selalu menghindari Merasa Lebih Baik dari Orang Lain Itu Tidak Baik.

Ketika seseorang ber-ibadah kepada Alloh, sudah barang tentu ia di tuntut untuk ikhlas dan benar saat mengerjakannya, mencintai ibadah tersebut, menyadari dengan sebenarnya nikmat Alloh pada ibadah yang tengah ditegakkan nya, juga mengakui ada ketidak-sempurnaan ibadah nya, dan tidak pula dalam benaknya merasa ibadah itu akan diterima.

Namun jika seseorang ber-ibadah dengan perasaan yang tidak ikhlas, selalu ber-ibadah dengan menyelisihi sunnah, lupa akan nikmat yang telah Alloh berikan pada nya, merasa diri paling hebat ibadahnya daripada orang lain dan sudah merasa mem-berikan hak Alloh hingga ia yakin Allah ‘wajib’ menerima dan mem-berinya pahala, maka tentu saja Ini merupakan sikap yang ber-lebihan dan tidak baik dan cenderung lupa diri. Ini sangat berbeda dengan orang-orang shalih yang diabadikan dalam Al-Qur’an.

Alloh Subahanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Merasa Lebih Baik dari Orang Lain Itu Tidak Baik“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mukminun: 60)

Maksudnya : mereka senantiasa ber-amal /mengeluarkan sedekah, nafkah, infak, dan bantuan-bantuan lain nya. Kondisi hati mereka tentu saja belum merasa cukup dengan banyak nya amal-amal tersebut dan selalu merasa takut jika Alloh tidak menerima amal-amal mereka.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Rodliyallohu ‘Anha berkata, “Aku telah bertanya kepada Rosululloh Shollolloohu ‘Alaihi Wasallam tentang ayat ini, apakah mereka orang-orang yang minum khamer, pezina, dan pencuri? Beliau menjawab, “Tidak, wahai putri al-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menunaikan shalat dan shadaqah namun mereka takut kalau amalnya tidak diterima.” (HR. Al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Di shahihkan Syaikh al-Albani)

Oleh sebab itu, siapa yang men-dapatkana Rahmat /Taufiq dari Alloh untuk ber-amal shalih, janganlah dia memandang dirinya sebagai manusia suci yang pasti selamat dari neraka dan terjamin surga. Akibatnya, lemah isti’anah dan tawakkal kepada Alloh. Diikuti keleemahan rasa takut terhadap rencana tersembunyi (makar) Alloh terhadap dirinya. Juga lemah roja’ (pengharapan) kepada ampunan dan rahmat-Nya.

Ujub (bangga diri) atau Merasa Lebih Baik dari Orang Lain Itu Tidak Baik dengan amal melahirkan kesombongan sehingga memandang rendah orang yang tidak beramal seperti amalnya. Boleh jadi orang-orang tersebut lebih dekat kepada Alloh dengan amal lain.

Al-‘Allamah Ibnu Qayyim Al-Jauziyah Rohimahulloh berkata,

إذا فتح الله عليك في باب قيام الليل ، فلا تنظر للنائمين نظرة ازدراء . وإذا فتح الله عليك في باب الصيام ، فلا تنظر للمفطرين نظرة ازدراء. وإذا فتح الله عليك في باب الجهاد ، فلا تنظر للقاعدين نظرة ازدراء . فرب نائم ومفطر وقاعد .. أقرب إلى الله منك

“Jika Allah Ta’ala membukakan untukmu pintu (memudahkan) shalat malam, jangan memandang rendah orang yang tertidur. Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa (sunnah), janganla memandang rendah orang yang tak berpuasa. Dan jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, maka jangan memandang rendah orang yang tak berjihad. Sebab, bisa saja orang yang tertidur, orang yang tidak berpuasa (sunnah) dan orang yang tak berjihad itu lebih dekat kepada Alloh ketimbang dirimu.”

Kemudian beliau melanjutkan,

وإنك أن تبيت نائماً وتصبح نادماً خير من أن تبيت قائماً وتُصبح معجباً ، فإنَّ المُعجَب لا يصعد له عمل

“Sungguh, engkau ketiduran sepanjang malam lalu menyesal di waktu pagi, lebih baik daripada melewati malam dengan ibadah tapi merasa bangga di pagi hari. Itu karena orang yang sombong, amalannya tidak akan naik ke sisi Alloh.” (Madarij As-Salikin: 1/177).

Orang yang jika tertawa namun sambil mengakui dosa-dosa yang ada pada dirinya itu lebih baik daripada seseorang yang selalu menangis namun merasa diri nya sebagai orang yang shalih.

Seseorang yang memiliki banyak dosa namun menangisi dosa nya lebih Alloh cintai daripada tukang dzikir namun selalu mem-banggakan dirinya. Karena boleh jadi, Allah akan memberikan obat atas penyakit dosanya. Sedangkan orang yang berbangga tersebut meninggal di atas ujub dan kesombongannya sementara ia tidak mengetahuinya, itulah kenapa kita harus semaksimal mungkin menghindari Merasa Lebih Baik dari Orang Lain Itu Tidak Baik. Wollohu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *